oleh

Said Aqil : NU Butuh program-program yang nyata

Said Aqil : NU Butuh program-program yang nyata

Bandar Lampung, (BeritaJempol.co.id) -Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) petahana Said Aqil Siroj berharap kegiatan Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung pada 23-25 Desember 2021 bisa bermartabat. Dan juga menghasilkan keputusan bermanfaat bagi bangsa.

“Alhamdulillah sekarang saya menginginkan betul kalau Muktamar di Lampung bisa menjadi Muktamar yang mudah-mudahan bermartabat menghasilkan keputusan bermanfaat bagi bangsa. Bukan hanya pilihan dari pimpinan tetapi juga rekomendasi, program itu yang paling penting muktamar itu jadi bukan hanya untuk memilih ketua umum,” kata Said Aqil, usai mengisi kegiatan di Universitas Malahayati (Unimal), Selasa 21 Desember 2021.

Untuk itu, dirinya pun menghimbau kepada seluruh peserta Muktamar NU ke-34 ini bisa mencontohkan berakhlak. Dengan menjunjung tinggi tradisi NU yang toleransi, moderat, akur dan solid. “Jangan sampai muktamar menjadi perpecahan. Mari kita tunjukan NU itu terkenal dengan kelompok beraklaq mulia. Jangan jadikan muktamar ini menjadi yang tak sesuai dengan aklaq mulia. Kalau tidak sesuai jalurnya harga saham diri kita (NU) turun dong. Nilai NU akan turun sekali lagi NU dianggap punya masyarakat banyak,” kata dia.

Menurut Said Aqiel Siradj, siapapun yang nanti akan menjadi pemimpin Nahdatul Ulama tetaplah untuk satu tujuan yakni NU yang lebih kompak. “Muktamar bukan hanya pemilihan Ketua Umum, tapi bagaimana agar muktamar merbartabat. Jadikan muktamar yang bermartabat ialah dengan akhlak ditopang dengan semangat kekompakan. Mari kita gelar muktamar NU ke-34 dengan akhlak, kompak, akur solid dan moderat, ” jelasnya.

Dengan tegas ketua umum dua periode ini menegaskan bahwa jangan sampai muktamar NU jadi ajang perpecahan. “Jangan sampai menghasilkan perpecahan, kita kelompok yang berharga mulia dihadapan kiayi, seperti ulama dan kiayi di pesantren yang selalu berbicara moral,” ujar Said Aqiel Siradj.

Terkait salah satu calon yang disinyalir beraplisiasi dengan Israel, Said Aqil Siroj menyatakan pihaknya tak akan mengakui atau datang ke Israel selama negara itu tak mengakui kemerdekaan Palestina. “Dan saya menjaga netralitas sikap terhadap luar negeri. Atau sikap PBNU terhadap politik luar negeri. Selama Israel tak mengakui Palestina, maka PBNU menolak akui Israel. Apalagi sampai datang ke Israel,” kata Said seperti juga yang diuangkapnya saat konferensi pers terkait kesediaannya menjadi calon Ketum PBNU di Muktamar NU di lampung, di Jakarta Pusat, Rabu 8 Desember 2021 lalu.

Said berkeinginan untuk terus berkontribusi mewujudkan perdamaian di kawasan Timur Tengah sambil berharap Israel bisa berdamai secara hakiki dengan Palestina. Said juga berjanji akan menjaga NU dari gerakan keagamaan yang liberal dan radikal.

Dia menjelaskan pemahaman liberal itu berupa sikap yang menjauhkan diri dari pesantren, ulama, dan kitab kuning.”Kalau saling mengakui, ayo kita hormati perdamaian itu. Tapi yang betul-betul damai. Bukan politik, bukan diplomasi. Tapi betul-betul perdamaian,” kata Said, yang juga menjabat Komisaris Utama PT Kereta Api Indonesia itu.

“Saya akan jaga NU. NU harus berangkat dari kitab kuning, Islam berkeadaban, Islam berakhlak dan tetap dengan pesantren dan hormat menghormati dan taat pada ulama pesantren,” ucap dia.

Said menegaskan dia maju kembali sebagai Ketua PBNU adalah atas dukungan dan dorongan para Kyai, dan tidak ada ada obsesi untuk maju sebagai calon presiden atau calon wakil presiden pada 2024 bila terpilih sebagai Ketum PBNU. “Tidak ada obsesi untuk lebih naik lagi. Tidak ada sama sekali kepikiran Capres. Enggak ada obsesi seperti itu, tidak ada. Karena saya bukan maqom-nya. Bukan bidangnya lah sebagai pejabat politik,” kata Said.

Diketahui, isu kedekatan dengan Israel sempat menjadi polemik saat mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Yahya Cholil Staquf memenuhi undangan American Jewish Community (AJC) Global Forum, 2018. Dalam acara itu, Yahya juga bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Sejumlah kelompok keagamaan, terutama yang dekat dengan salah satu capres gagal di 2019, mencibir kunjungan itu.

Wakil Ketua Tim Pemenangan Said Aqil Siradj, Akhmad Muqowam menjelaskan bahwa kebutuhan NU kedepan itu lebih komplek dan membutuhkan kesinambungan. “Kita lihat sendiri, sudah banyak yang berubah di NU dalam 10 tahun terakhir. Dalam relasi dengan negara misalnya, NU mampu menjadi pengokoh NKRI, sehingga peran NU itu menarik dan beberapa negara lain bahkan tertarik untuk mempelajarinya,” lanjutnya.

Sebagai organisasi terbesar di Indonesia, NU membangun hubungan yang sinergi dengan bangsa, berada di garis terdepan dalam menjadikan Indonesia negara yang penuh toleransi “Kiai Said berhasil membawaa NU menjadi satu kesatuan yang utuh dengan Indonesia, dengan pemikiran-pemikiran beliau yang jauh sampai ke dunia Internasional,” ujar politisi yang juga pernah Wakil Ketua DPD RI tersebut.

Untuk itu, yang dibutuhkan NU itu sekarang adalah program-program yang nyata, yang tidak saja bidang agama atau pesantren, tapi sudah harus masuk ke dalam bidang ekonomi, pendidikan serta kesehatan. “Semua hal itu sudah dilakukan oleh Kiai Said. 43 Universitas NU berdiri di masa beliau, Rumah Sakit dan pemberdayaan ekonomi umat melalui program-program yang nyata,” kata.

(Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *